Senin, 03 Oktober 2011

Tafsiran Markus 10:28-34


Tafsir Injil Markus 10:28-34

Upah Mengikut Yesus
dan
Peringatan PenderitaanNya

Mar 10:28-34
28 και ηρξατο ο πετρος λεγειν αυτω ιδου ημεις αφηκαμεν παντα και ηκολουθησαμεν σοι. 29 αποκριθεις δε ο ιησους ειπεν αμην λεγω υμιν ουδεις εστιν ος αφηκεν οικιαν η αδελφους η αδελφας η πατερα η μητερα η γυναικα η τεκνα η αγρους ενεκεν εμου και του ευαγγελιου. 30 εαν μη λαβη εκατονταπλασιονα νυν εν τω καιρω τουτω οικιας και αδελφους και αδελφας και μητερας και τεκνα και αγρους μετα διωγμων και εν τω αιωνι τω ερχομενω ζωην αιωνιον. 31 πολλοι δε εσονται πρωτοι εσχατοι και οι εσχατοι πρωτοι. 32 ησαν δε εν τη οδω αναβαινοντες εις ιεροσολυμα και ην προαγων αυτους ο ιησους και εθαμβουντο και ακολουθουντες εφοβουντο και παραλαβων παλιν τους δωδεκα ηρξατο αυτοις λεγειν τα μελλοντα αυτω συμβαινειν. 33 οτι ιδου αναβαινομεν εις ιεροσολυμα και ο υιος του ανθρωπου παραδοθησεται τοις αρχιερευσιν και τοις γραμματευσιν και κατακρινουσιν αυτον θανατω και παραδωσουσιν αυτον τοις εθνεσιν. 34 και εμπαιξουσιν αυτω και μαστιγωσουσιν αυτον και εμπτυσουσιν αυτω και αποκτενουσιν αυτον και τη τριτη ημερα αναστησεται

Pertanyaan penelitian
1. Apa yang dimaksud oleh Yesus “akan menerima kembali seratus kali lipat” ?
2. Apa makna ungkapan “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." ?
3. Mengapa murid-murid Yesus cemas dan takut ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Yerusalem?
Analisis
            Kisah dalam perikop ini dimulai dengan kata και (artinya : dan), dalam Alkitab terjemahan King James Version ayat 28 dimulaui dengan kata Then Peter began to say unto him (Kemudian Petrus berkata kepadanya). Hal ini menunjukkan bahwa kisah yang terdapat dalam perikop ini merupakan kelanjutan dari perikop-perikop sebelumnya. Dan kisah dalam perikop ini tidak dapat dipisahkan dari kisah-kisah dalam perikop sebelumnya. Sepertinya ada kesengajaan dari pihak penulis injil Markus untuk menempatkan kisah tentang upah mengikut Yesus dalam pasal ini. Maksud dari penulis Injil Markus sepertinya adalah untuk menciptakan suatu perbedaan yang tajam dengan kisah mengenai orang kaya yang enggan meninggalkan seluruh hartanya untuk mengikut Yesus (10:17-27)[1]. Dalam kisah ini penulis Injil Markus seakan ingin menyatakan kepada pembaca bahwa ada perbedaan yang sangat tajam antara orang kaya yang enggan untuk meninggalkan hartanya dengan murid-murid Tuhan yang rela untuk meninggalkan segala sesuatu yang ada pada diri mereka untuk mengikut Yesus. Petrus bertindak sebagai “juru bicara” bagi para murid yang lain, dapat dikatakan demikian sebab dalam perkataannya, Petrus tidak menggunakan kata ἐγώ (aku), tetapi ditulis bahwa Petrus menggunakan kata ημεις yang adalah kata ganti orang pertama plural yang dapat diterjemahkan dengan kami[2]. Ia mengatakan bahwa mereka telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Tuhan. Kata meninggalkan dalam bahasa Yunani menggunakan kata αφηκαμεν. Kata ini menggunakan case  Aorist Active Indicative. Case  ini menunjukkan kegiatan yang telah selesai dilakukan[3]. Hal ini menunjukkan, ketika Petrus berkata bahwa mereka (Petrus dan murid-murid yang lain) telah meninggalkan segala sesuatu hal ini sungguh-sungguh terjadi dan memang telah selesai mereka lakukan. Petrus menyatakan bahwa mereka telah meninggalkan segala sesuatu, dalam bahasa Yunani kata “segala sesuatu” dituliskan dengan bentuk παντα , artinya keseluruhan. Hal ini menandakan bahwa Petrus dan rasul lain yang telah menentukan jalan hidupnya untuk mengikut Yesus telah meninggalkan keseluruhan dari apa yang mereka miliki. Inti dari ucapan Petrus ialah bahwa mereka telah selesai melakukan apa yang Tuhan inginkah untuk dilakukan oleh orang muda yang kaya itu, yaitu meninggalkan segala sesuatu dan mengikutiNya. Agaknya pertanyaan Petrus adalah pertanyaan yang sungguh-sungguh masuk akal[4].  Namun dalam kata-kata Petrus ini terasa suatu jeni kepuasan pribadi. Petrus barangkali yakin bahwa ia bersama teman-temannya akan diterima dalam Kerajaan Allah (9:33)[5]. Yesus menjawab pertanyaan Petrus (dan murid-murid lain) dengan sebuah pernyataan yang juga berisi janji di dalamnya. Yesus menerima adanya pemberian “upah” (9:41)[6]. Yesus menyatakan bahwa barangsiapa yang karenaNya dan karena Injil meninggalkan rumah, saudara, orangtua, anak, atau ladangnya akan menerima kembali seratus kali lipat. Yesus menjadikan diriNya sendiri dan Injil Kerajaan Allah sebagai alasan utama mengapa Petrus dan murid-murid yang lain mau untuk meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki. Pernyataaan Yesus “karena Injil” merujuk pada pemberitaan Injil yang telah Ia mulai (1:14-15) dan kemudian dilanjutkan oleh murid-muridNya (3:14). Agaknya Yesus dengan sangat lengkap dan jelas menyebutkan apa saja yang telah ditinggalkan oleh murid-muridNya demi mengikut Yesus dan menjadi muridNya. Murid-murid Yesus telah mengalami kehilangan yang sangat besar dalam pengiringan mereka kepada Yesus, antara lain mereka telah kehilangan kekayaan duniawi. Tidak secara kebetulan penulis Injil Markus menyebutkan rumah dan ladang pada urutan pertama dan terakhir. Jika seseorang meninggalkan rumahnya, yang menjadi rumahnya dan ia juga meninggalkan ladangnya, yang menjadi sumber penghasilannya, maka ia hanya akan membuat dirinya menjadi pengemis dan terlunta-lunta. Mereka telah memilih untuk meninggalkan tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka yang sesungguhnya sangat nyaman hanya demi mendapatkan rumah yang dari sorga dan warisan dari orang-orang kudus dalam terang, dimana ada banyak tempat tinggal. Hal lain yang juga telah mereka tinggalkan demi mengikut Yesus ialah kerabat dekat mereka. Di dalam hal-hal ini terdapat kenyamanan hidup. Mudah bagi seseorang untuk meninggalkan nafsunya demi Kristus, tetapi untuk meninggalkan bapa, saudara laki-laki, dan isteri demi Kristus, yaitu membuang mereka yang ia tahu harus mereka kasihi bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan[7]. Yesus mengatakan kepada mereka yang telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia, bahwa mereka akan menerima seratus kali lipat dari apa yang telah mereka tinggalkan. Seratus kali lipat bukanlah sebuah formula matematis, tetapi adalah sebuah retoris.  Dan hal tersebut akan mereka terima pada masa ini. Janji yang diucapkan Yesus bukan dalam pengertian, bahwa mereka akan mendapatkannya kembali dalam bentuk yang sama, tetapi yang seharga dengan itu[8]. Tetapi murid-murid Yesus juga harus mengerti dan menyadari bahwa penyiksaan juga akan mereka alami dalam proses pemberian upah yang dijanjikan kepada mereka.  Hal ini senada dengan apa yang Yesus katakan dalam Markus 8:34, dimana Yesus mengajarkan bahwa setiap orang yang mau mengikut Yesus harus menyangkal diri dan memikul salibnya. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak hanya menjanjikan bahwa setiap orang yang telah mengambil keputusan untuk mengikut Yesus akan mendapat perkara-perkara yang menyenangkan bagi daging. Tetapi Yesus mengajarkan bahwa untuk menerima upah dariNya, murid-murid Kristus harus juga mengalami pelbagai penderitaan dan ujian. Beberapa penafsir menyatakan bahwa upah yang akan diterima oleh pengikut Yesus yang telah meninggalkan rumah dan keluarganya akan mereka terima setelah mereka mengalami penganiayaan[9]. Kedua pendapat ini memiliki suatu kesamaan, yaitu bahwa kita harus tetap sedia untuk menjadi orang yang menderita bagi Dia, dan kita tidak akan berada di luar jangkauan penganiayaan, sampai kita masuk ke dalam sorga. Penganiayaan akan tampak datang secara bersamaan ketika kita menerima berkat pada masa sekarang.  Selain berkat jasmani yang akan mereka terima sebesar seratus kali lipat di masa kini, Yesus juga menjanjikan bahwa mereka juga akan menerima hidup yang kekal di masa yang akan datang. Janji ini diberikan kepada orang yang mau meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus dan menjadi muridNya. Yesus memberikan hidup yang kekal kepada mereka. Terdapat suatu perbedaan yang sangat mencolok antara orang muda yang kaya dengan murid-murid Yesus. Perbedaan ini muncul pada hidup kekal yang akan mereka terima. Bila dilihat dalam Markus 10:17, disana dituliskan bahwa orang muda yang kaya itu bertanya kepada Yesus, apakah yang harus ia lakukan untuk menerima hidup yang kekal. Tetapi apa yang orang kaya itu minta kepada Yesus, justru Ia berikan kepada murid-muridNya yang telah meninggalkan segala sesuatu demi menjadi murid Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan yang kekal akan dapat diterima hanya karena pemberian dari Tuhan. Hidup yang kekal tidak dapat diraih dengan melakukan sesuatu. Setelah menjanjikan “upah” yang akan murid-murid terima, maka Yesus pun menyampaikan sebuah pesan kepada murid-muridNya. Ia mengatakan bahwa banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terkemudian dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu. Perkataan ini juga dikutip dalam injil yang lain, tetapi setiap injil memiliki penempatan yang berbeda-beda untuk perkataan ini. Ini merupakan peringatan bagi mereka yang mengira telah menjadi pengikut yang benar dan telah menemukan apa yang dijanjikan kepadanya. Sama halnya dengan yang terjadi pada orang muda yang kaya. Ia mengira bahwa dirinya telah memenuhi syarat untuk memiliki hidup yang kekal, sebab dalam perkataannya ia seakan-akan menyatakan bahwa ia telah melakukan hukum Taurat dengan sempurna (10:20), tetapi ketika Yesus memerintahkan kepadanya untuk menjaul seluruh hartanya, ia pun kecewa dan pergi dengan sedih. Peringatan ini Yesus sampaikan kepada murid-muridNya agar mereka tidak menjadi sama seperti orang muda yang kaya itu. Yesus memperingatkan mereka agar mereka tidak menjadi yang terakhir dalam pengiringan mereka kepada Yesus.
Selanjutnya, penulis Injil Markus memasukkan kisah mengenai Yesus dan murid-muridNya masuk ke Yerusalem. Yerusalem merupakan tempat tujuan utama pelayanan Yesus. Sebab Yerusalem lah tempat dimana karya penebusan umat manusia tergenapi. Ini merupakan kali pertama dimana nama Yerusalem disebutkan dalam rencana perjalanan Yesus. Secara jelas dituliskan bahwa Yerusalem adalah tujuan Yesus dalam perjalananNya, dan Yesus sudah mnegetahui bahwa di Yerusalemlah, Ia harus memberikan diriNya sebagai persembahan-Nya kepada Tuhan [10]. Dalam teks terjemahan bahasa Inggris, disebutkan bahwa Yesus dan murid-muridNya naik ke Yerusalem. Hal ini menunjukkan bahwa kota Yerusalem berada di ketinggian. Dan untuk mencapai kesana, satu-satunya jalan yang harus dilakukan ialah dengan melakukan pendakian. Murid-murid Yesus sedang dalam perjalanan mereka mengikuti guru mereka yang sadar bahwa kematianNya sudah semakin mendekat yang menunggunya di kota tersebut. Hanya Markus yang menuliskan bahwa dalam perjalanan Yesus dan murid-muridNya ke Yerusalem, Yesus lah yang memimpin perjalanan mereka[11]. Matthew Henry menyatakan bahwa Yesus menyatakan tanggung jawabNya kepada murid-muridNya. Bahkan hal tersebut Ia lakukan dalam kondisi dimana Ia tengah menghadapi bagian yang tersulit dari tanggung jawabNya tersebut. Sebagai pemimpin dari rombongan tersebut, Yesus melaksanakan posisiNya sebagai pimpinan dari murid-muridNya. Yesus sadar bahwa Ia adalah gembala dari murid-muridNya. Hal ini membuat Ia memilih untuk berjalan di depan murid-muridNya, dan mendahului mereka untuk menuju ke Yerusalem. Sekali lagi, ditemukan hal yang menarik dalamInjil Markus, sebab hanya dalam injil Markus dinyatakan bahwa dalam perjalanan murid-murid untuk mengiringi Yesus, mereka berjalan dengan penuh ketakutan dan kecemasan. Sepertinya mereka telah mengetahui bahwa ada kejadian tidak baik yang sudah menunggu mereka di Yerusalem. Dalam pengiringan mereka untuk mengikuti Yesus dari belakang ketika mereka hendak menuju Yerusalem, dituliskan bahwa mereka cemas. Tetapi bila dilihat dalam bahasa Yunani, kata cemas ditulis dengan bentuk εθαμβουντο (Etambounto), kata ini memiliki case Imperfect Passive Indicative, dimana case ini memiliki fungsi untuk menunjukkan kegiatan yang sedang berlangsung pada masa lampau[12], dan bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, maka akan didapat arti They were being amazed. Hal ini menunjukkan bahwa ketika mereka tengah berjalan, para murid merasakan sebuah kekaguman terhadap Yesus, sebab Yesus berani untuk berjalan di depan mereka untuk mendahului mereka. Padahal murid-murid tahu bahwa Yerusalem merupakan tempat dimana Yesus akan menyerahkan diriNya sebagai korban penebusan bagi umat manusia. Tetapi hal tersebut tidaklah membuat Yesus menjadi takut dan gelisah, tetapi justru sebaliknya, Ia berani untuk memimpin murid-murid berjalan di depan mereka. Ketakutan yang dialami oleh orang-orang yang mengikutiNya. Mereka mengalami ketakutan terkait dengan keselamatan diri mereka sendiri, sebab mereka khawatir akan bahaya yang akan mereka hadapi nanti di Yerusalem[13]. Melihat hal tersebut, Yesus sekali lagi memanggil mereka untuk menyatakan apa yang pasti akan terjadi pada diriNya. Ini merupakan pemberitaan ketiga Yesus kepada murid-muridNya bahwa Ia akan disiksa, dibunuh, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit dari antara orang mati. Pemberitaan pertama mengenai penderitaan diucapkan Yesus segera setelah pengakuan Petrus di Kaisarea Filipi. Pemberitaan kedua, ialah selama perjalanan Galilea. Dan pemberitaan ketiga ialah ketika rombongan Yesus tengah dalam perjalanan ke Yerusalem, sebelum mereka melintasi kota Yerikho (10:46). Pemberitaan ini disampaikan oleh Yesus kepada kedua belas murid yang telah Ia tunjuk. Pemberitaan ini Ia khususkan  kepada mereka, sebab Yesus telah menentukan bahwa mereka yang akan memberitakan Injil (10:14). Itulah sebabnya mengapa Yesus memberitahukan kepada kedua belas rasul yang telah Ia tetapkan apa yang akan Ia alami nanti. Yesus menarik perhatian murid-murid dan mempersiapkan mereka untuk peristiwa yang akan sangat asing dan sangat mengejutkan mereka. Hal ini Ia ucapkan secara berkala kepada mereka agar mereka siap untuk mengahadpi bila saatnya tiba, dimana Anak Manusia harus menerima pelbagai penderitaan bahkan sampai dibunuh. Yesus sadar bahwa tujuan utamaNya datang ke dunia ini ialah bahwa Ia harus diserahkan kepada para Imam untuk dibunuh. Sejak pengakuan Petrus yang menyatakan bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (8:29) Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia yang adalah Mesias harus menanggung derita. Murid-murid Yesus belum menyadari dan mnegerti apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Yesus, ketika Ia menyatakan bahwa diriNya harus menderita, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga. Mereka masih memiliki pola pikir, bahwa Yesus yang adalah Mesias akan menjadi raja atas Israel dan akan memerintah dengan kejayaan sama seperti pada masa Daud (bnd.10:45). Pemberitaan ketiga Yesus tentang penderitaan yang akan Ia alami kepada murid-muridNya agaknya cukup berbeda dengan pemberitaanNya yang pertama dan kedua, sebab dalam pemberitaanNya yang ketiga ini, Yesus dengan begitu lengkapnya menubuatkan tentang kematianNya yang telah menanti di Yerusalem[14]. Kali ini, Yesus menumpahkan kesalahan kepada para pemimpin rohani di Israel. Yesus menjadikan mereka sebagai penyebab utama kematianNya. Tetapi nubuatan Yesus terkait dengan kematian yang akan Ia alami diakhiri dengan janji kemenangan yang akan terjadi pada diriNya. Yesus menjanjikan kepada murid-muridNya bahwa sekalipun Ia harus menanggung pelbagai penderitaan, tetapi pada hari yang ke-tiga Ia akan bangkit dari antara orang mati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar